Komando Armada RI Kawasan Timur

Ghora Wira Madya Jala

Arti moto Ghora Wira Madya Jala seperti yang tertera pada logo Koarmatim adalah: Ghora berarti sesuatu yang besar dan memiliki kewibawaan; Wira berarti prajurit yang mempunyai sifat keberanian; Madya berarti di tengah. Jala berarti di laut. Sehingga secara keseluruhan makna dari moto ini adalah “Ksatria Perkasa di Tengah Samudera. Sedangkan untuk gambar di tengah-tengah logo adalah penyatuan 3 (tiga) unsur kemampuan pokok (peperangan atas air, peperangan bawah air, dan udara) yang dilengkapi dengan senjata ampuh “Cakra” berbentuk kilat bersayap, yang melukiskan Koarmatim sanggup bergerak dengan cepat dan mampu menghancurkan lawan dengan tepat dan sempurna. Ledakan kuning dengan pinggiran merah dimaksudkan sebagai angkara murka yang harus dibasmi dari muka bumi.

cakraKomando Armada RI Kawasan Timur sebagai Komando Utama Pembinaan dan Operasional TNI Angkatan Laut memiliki simbol Senjata Cakra. Senjata tersebut merupakan senjata terampuh dari tokoh pewayangan Batara Wisnu yang diambilkan dari mithologi Hindu, yang menyimbolkan kemampuan tiga dimensi yaitu peperangan anti udara, peperangan atas air serta peperangan bawah air. Dengan mengambil simbol cakra ini diharapkan dapat memacu dan membangkitkan motivasi prajurit untuk mencapai yang terbaik dalam menampilkan profesionalisme prajurit matra laut. Simbol Senjata Cakra tersebut diserahterimakan dari mantan Pangarmatim sebelum meninggalkan Mako Koarmatim untuk yang terakhir kalinya kepada Pangarmatim sebagai simbol penyerahan tugas dan tanggung jawab sekaligus membuka rangkaian kegiatan farewell yang merupakan bagian dari rangkaian serah terima jabatan Pangarmatim.

Sejarah

Akar terbentuknya Indonesia yang dahulu bernama Nusantara sebenarnya tertuang dalam butiran Sumpah Palapa yang dicetuskan oleh Maha Patih Majapahit Gajah Mada pada tahun 1336. Sumpah Palapa adalah tekad yang disampaikan Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara di hadapan Ratu Majapahit Tribhuanatunggadewi yang menjadi fakta sejarah upaya nenek moyang kita untuk menyatukan Nusantara. Makna Palapa konon berasal dari bahasa Arab Faalafa yang artinya ‘mempersatukan’. Saat itu Majapahit memanfaatkan laut sebagai media perdagangan. Oleh karena itu Majapahit memandang perlu untuk pembangunan angkatan laut yang kuat untuk mengamankan perairan Nusantara dari perompak dan bajak laut, sehingga Majapahit mendapat pengakuan dari negeri-negeri lain yang merasa aman di bawah naungan Majapahit. Terlebih lagi dengan panji Majapahit yang berwarna merah putih merupakan warna yang sudah dikenal di setiap pelosok Nusantara. Selanjutnya Nusantara yang disimbolkan dengan imperium Majapahit merupakan bangsa maritim yang tangguh dan berdaulat.

Sukarno_TNI_AL

Kedaulatan Nusantara berlanjut setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dengan terbentuknya Angkatan Laut Republik Indonesia. Sejarah Angkatan Laut dimulai dari dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945. BKR kemudian berkembang menjadi beberapa divisi, dimana BKR Laut, salah satu divisi awalnya, meliputi wilayah bahari / laut. Dibentuknya Badan Keamanan Rakyat Laut (BKR Laut) pada tanggal 10 September 1945 oleh administrasi kabinet awal Soekarno menjadi tonggak penting bagi kehadiran Angkatan Laut di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Terbentuknya BKR Laut ini dipelopori tokoh-tokoh bahariawan veteran yang pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine selama masa penjajahan Belanda dan veteran Kaigun selama masa pendudukan Jepang. Faktor lain yang mendorong terbentuknya badan ini adalah adanya potensi yang memungkinkan untuk menjalankan fungsi Angkatan Laut seperti kapal-kapal dan pangkalan, meskipun pada saat itu Angkatan Bersenjata Indonesia belum terbentuk. Terbentuknya organisasi militer Indonesia yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) turut memacu keberadaan TKR Laut yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.

Sejumlah Pangkalan Angkatan Laut terbentuk, kapal – kapal peninggalan Jawatan Pelayaran Jepang diperdayakan, dan personel pengawaknya pun direkrut untuk memenuhi tuntutan tugas sebagai penjaga laut Republik yang baru terbentuk itu. Sementara itu, sejarah Armada Republik Indonesia (Armada RI) tidak terlepas dari sejarah kemerdekaan Republik Indonesia yang diikuti dengan kelahiran TNI AL yang diawali dengan pembentuka tersebut di atas. Sejak masa TKR Laut ini struktur organisasi mulai disusun sesuai kebutuhan matra laut, yakni dengan membentuk beberapa satuan seperti Pangkalan, Corps Armada, Corps Mariniers, Polisi Tentara Laut, dan Kesehatan. Pada tanggal 25 Januari 1946 TKR Laut berubah menjadi Tentara Republik Indonesia Laut (TRI Laut). Demikian pada pada tanggal 19 Juli 1946 TRI Laut kemudian dirubah menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yang disyahkan bertepatan dengan pelaksanaan Konferensi ALRI di Lawang.

STKemudian setelah kualitas unsur armada semakin canggih dan modern serta dan kuantitasnya semakin besar, akhirnya terbentuklah sebuah Komando Armada. Berdasarkan SK KSAL No. A. 4/2/10 tanggal 14 September 1959 ditetapkan berdirinya organisasi Komando Armada ALRI, yang diresmikan pembentukannya pada tanggal 5 Desember 1959 oleh KSAL Komodor Laut R.E. Martadinata. Pada tanggal ini selanjutnya tiap tahun diperingati sebagai “Hari Armada”.Sejalan dengan semakin komplexnya permasalahan yang terjadi di laut, pemimpin memandang perlu untuk membagi dua Armada. Selanjutnyam berdasarkan Surat Keputusan Panglima ABRI Nomor : Kep.171/II/1985 tanggal 30 Maret 1985, Armada RI resmi di bagi menjadi dua kawasan wilayah kerja, yaitu Armada RI Kawasan Timur dan Armada RI Kawasan Barat. Pembagian wilayah kerja tersebut, juga secara bertahap melaksanakan Dispersi kekuatan Alut Sista yang semula seluruhnya berada di Armada Timur, sebagian di Dispersi ke Armada Barat, guna menyikapi perkembangan jaman dan tuntutan tugas semua wilayah kerja.

Tugas Pokok

Sebagai Kotama Operasi

  • Menyelenggarakan operasi intelijen maritim guna mendukung pelaksanaan operasi laut,
  • Menyelenggarakan operasi tempur laut dalam rangka OMP (Operasi Militer Perang) baik operasi gabungan maupun mandiri,
  • Menyelenggarakan OMSP (Operasi Militer Selain Perang) baik berupa operasi laut sehari-hari maupun operasi keamanan laut di wilayahnya sesuai dengan kebijakan Panglima TNI.

Tugas-Tugas

  • Membina kemampuan dan kekuatan komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT),
  • Membina kemampuan peperangan laut,
  • Membina kesiapan operasional untuk melaksanakan OMP dan OMSP dalam rangka pengendalian laut serta proyeksi kekuatan ke darat lewat laut dalam rangka penegakan kedaulatan dan hukum di laut sesuai kebijakan Panglima TNI serta,
  • Membina potensi maritim menjadi kekuatan pertahanan dan keamanan negara di laut yang berkedudukan di bawah dan bertanggung-jawab kepada Kasal.

Kode Etik

Sapta Marga

  1. Kami Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Bersendikan Pancasila.
  2. Kami Patriot Indonesia Pendukung Serta Pembela Ideologi Negara yang Bertanggung Jawab dan Tidak Mengenal Menyerah.
  3. Kami Kesatria Indonesia yang Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa Serta Membela Kejujuran Kebenaran dan Keadilan.
  4. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia Adalah Bhayangkari Negara dan Bangsa Indonesia.
  5. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia Memegang Teguh Disiplin, Patuh dan Taat Kepada Pimpinan Serta Menjunjung Tinggi Sikap dan Kehormatan Prajurit.
  6. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia Mengutamakan Keperwiraan di Dalam Melaksanakan Tugas Serta Senantiasa Siap Sedia Berbakti Kepada Negara dan Bangsa.
  7. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia Setia dan Menepati Janji Serta Sumpah Prajurit.

Sumpah Prajurit

  1. Setia Kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia Yang Berdasarkan Pancasila Dan Undang-Undang Dasar 1945.
  2. Tunduk Kepada Hukum Dan Memegang Teguh Disiplin Keprajuritan.
  3. Taat Kepada Atasan Dengan Tidak Membantah Perintah Atau Putusan.
  4. Menjalankan Segala Kewajiban Dengan Penuh Rasa Tanggung Jawab Kepada Tentara Dan Negara Republik Indonesia.
  5. Memegang Segala Rahasia Tentara Sekeras-Kerasnya.

8 Wajib TNI

  1. Bersikap Ramah Tamah Terhadap Rakyat.
  2. Bersikap Sopan Santun Terhadap Rakyat.
  3. Menjunjung Tinggi Kehormatan Wanita.
  4. Menjaga Kehormatan Diri Di Muka Umum.
  5. Senantiasa Menjadi Contoh Dalam Sikap Dan Kesederhanaannya.
  6. Tidak Sekali-Kali Merugikan Rakyat.
  7. Tidak Sekali-Kali Menakuti Dan Menyakiti Hati Rakyat.
  8. Menjadi Contoh Dan Mempelopori Usaha-Usaha Untuk Mengatasi Kesulitan Rakyat Sekelilingnya.

TRISILA TNI AL

  • 1. Disiplin
  • 2. Hirarki
  • 3. Kehormatan Militer